Kalau anda sekarang merasa mata merah dan gatal, bersin-bersin, dan sesak napas...salahkan site yang anda buka...terlalu lama gak diurus, akibatnya site ini debu yang menupuk..
sebenarnya aku sudah merelakan cerita LPBT ini sejak bulan yang lalu. Tapi karena tuntutan moral akibat nulis judul LPBT part 1, jadi otomatis harus ada LPBT part 2.
Cerita tentang LPBT itu sebenarnya ya gitu-gitu aja.. Menarik juga gak sampe bikin gak bisa tidur. Tapi klo gak menarik juga bohong banget...
Dari yang bingung cari juri dan berhubungan dengan juri...
Bikin skrip ditolak terus...
Lampu mati... Kejadian paling aneh dalam sejarah LPBT. Karena 2 hari sebelumnya, divisi teknik membahas tentang worst scenario>> mati lampu
setelah sebulan lebih lewat hari final, kangen juga dengan stressnya LPBT...
post ini agak maksa ya... hehehehe
Sabtu, 02 Mei 2009
Selasa, 10 Maret 2009
LPBT part 1

Semua ini demi LPBT. Pulsa 100ribu habis dalam 2 minggu, pdhl gak punya pacar. Solar mengucur deras pdhl gak pernah di ajak ngedate. Pulang malem sambil nyetir ngantuk. Things I did for LPBT.
Tapi LPBT juga memberikan pengalaman berharga.
(pause)
Yang belum tau LPBT itu apa, LPBT adalah Lomba Presenter Berita Televisi. Fakultas Ilmu Komunikasi Petra ngadain acara ini buat anak2 SMA yg pengen nampang di TV untuk membacakan berita...
(play)
mulai dari pesen piala, nelpon juri, nulis script yg makin lama makin g jelas, kedinginan brrr d lab tv, dan ketemu sm Pak Iman.
Yang terakhir, membawa kesan tersendiri. Kalau bener pernah tinggal di Surabaya, pasti kamu tau suaranya yang khas. Pengetahuannya yang luas, cletukannya yang nylekit, pembawaannya yang kharismatik yang membuat ibu-ibu pada kesengsem.
Waktu pertama kali kontak dengan Pak Iman, aku sudah terintimidasi popularitasnya. Sudah ada bayangan, kalo aku bakalan ngmng sama seorang divo. Nyatanya? Salah besar! Salah satu juri yang paling bersahabat saat dihubungi dan tidak bertele-tele.
Waktu pertama kali ktemu...owalah...ini to yang namanya Pak Iman. Mirip Tora Sudiro dikit...hihihi. Dan yang paling bikin wow adalah posturnya yang menjulang. Bener-bener menjulang! 187 cm.
Lima hari bersama Pak Iman, ak bener-bener mati gaya. Beberapa kali aku nyesel memberikan cletukan gak penting. Tapi tidak sekalipun Pak Iman memberikan indikasi sewot.
gaulnya, Pak Iman TeOPe BeGeTe lah...
setelah bertemu beliau, terbukti kalau Pak Iman itu a real person. Makasih Pak, sudah mau direpotin sm LPBT...
bercerita tentang:
lpbt
Rabu, 21 Januari 2009
My Other X Chromosome
Tenang aja, ini bukan pembahasan biologi kok...cuma judulnya agak ilmiah, kali aja ada profesor yang mau baca...
Kalo udah pernah belajar biologi pasti tau dong, satu kromosom x paten dari mama, yang satunya lagi bisa x, bisa y dari papa. Post ini bercerita ttg kromosom yang bisa x, bisa y.
Seandainya hari itu yang menyatu adalah x dan y, judul post ini bakalan beda. Dan pastinya headernya gak bakalan sefeminin di atas..hehehe
My Other X Chromosome came from a man that I admire the most.
Dia bukan pria yang paling menawan. Kalo km ketemu dengan dia di mall ato mana, pasti km cuma mikir ‘om-om biasa’. Bukan juga org yang berpendidikan tinggi, sma aja gak lulus. Bukan pula orang yang sensitif-romantis yang bisa mengingat ultah anak-anaknya, ngasi kado jam 12, ngajak dinner mama.
Tapi dia orang yang punya rasa ingin tau yang super besar. Berbagai buku d baca, berbagai acara tv ditonton, berbagai artikel di koran dilahap (dari politik, ekonomi, sampe selebritis…serius ini!). Dia tau lebih banyak tentang kimia praktis dari anaknya yang duduk di SMA. Dia mengerti lebih dalam tentang ekonomi dunia daripada broker saham. Dia lebih tau kalo Ayu Azhari diundang ke pelantikan Obama daripada istrinya yang ngikutin acara gosip di TV.
Dia mungkin bukan orang besar yang terkenal. Tapi orang mengenalnya lewat keluarganya. Istrinya sering dimintai tolong untuk membenarkan peralatan rumah tangga tetangganya. Anaknya dipuji orang karena pengetahuan luas mengenai hal-hal non-akademis. Anaknya yang lain dibanggakan orang lain karena kesopanannya. Anak tetangga mengangguminya karena kehumorisannya dan keahliannya memotong kulit jeruk dengan pisau parang.
Ada banyak cerita tentang dia. Yang mungkin tidak sebesar cerita tentang peraih Nobel atau cerita tentang seorang presiden. Namun, ceritanya adalah cerita seorang ayah.
Satu hari, kita bertengkar dan seperti biasa, aku yang harus minta maaf karena ak yang jd anak. Selesai minta maaf, papa berkata “Kamu tidak tahu betapa papa mencintai kamu.” Hanya sekali papa mengucapkan kalimat itu, tapi aku tahu, kalimat itu punya arti yang sebenarnya.
Separuh kromosomku tidak akan pernah lengkap tanpa kromosom dari papa. Keras kepalaku, rasa ingin tauku, kesukaanku pada buku dan musik, pemikiran dalamku, semuanya melupakan replika kromosomnya.
You too have the same half other chromosome in your body. So love your every chromosome…
Kalo udah pernah belajar biologi pasti tau dong, satu kromosom x paten dari mama, yang satunya lagi bisa x, bisa y dari papa. Post ini bercerita ttg kromosom yang bisa x, bisa y.
Seandainya hari itu yang menyatu adalah x dan y, judul post ini bakalan beda. Dan pastinya headernya gak bakalan sefeminin di atas..hehehe
My Other X Chromosome came from a man that I admire the most.
Dia bukan pria yang paling menawan. Kalo km ketemu dengan dia di mall ato mana, pasti km cuma mikir ‘om-om biasa’. Bukan juga org yang berpendidikan tinggi, sma aja gak lulus. Bukan pula orang yang sensitif-romantis yang bisa mengingat ultah anak-anaknya, ngasi kado jam 12, ngajak dinner mama.
Tapi dia orang yang punya rasa ingin tau yang super besar. Berbagai buku d baca, berbagai acara tv ditonton, berbagai artikel di koran dilahap (dari politik, ekonomi, sampe selebritis…serius ini!). Dia tau lebih banyak tentang kimia praktis dari anaknya yang duduk di SMA. Dia mengerti lebih dalam tentang ekonomi dunia daripada broker saham. Dia lebih tau kalo Ayu Azhari diundang ke pelantikan Obama daripada istrinya yang ngikutin acara gosip di TV.
Dia mungkin bukan orang besar yang terkenal. Tapi orang mengenalnya lewat keluarganya. Istrinya sering dimintai tolong untuk membenarkan peralatan rumah tangga tetangganya. Anaknya dipuji orang karena pengetahuan luas mengenai hal-hal non-akademis. Anaknya yang lain dibanggakan orang lain karena kesopanannya. Anak tetangga mengangguminya karena kehumorisannya dan keahliannya memotong kulit jeruk dengan pisau parang.
Ada banyak cerita tentang dia. Yang mungkin tidak sebesar cerita tentang peraih Nobel atau cerita tentang seorang presiden. Namun, ceritanya adalah cerita seorang ayah.
Satu hari, kita bertengkar dan seperti biasa, aku yang harus minta maaf karena ak yang jd anak. Selesai minta maaf, papa berkata “Kamu tidak tahu betapa papa mencintai kamu.” Hanya sekali papa mengucapkan kalimat itu, tapi aku tahu, kalimat itu punya arti yang sebenarnya.
Separuh kromosomku tidak akan pernah lengkap tanpa kromosom dari papa. Keras kepalaku, rasa ingin tauku, kesukaanku pada buku dan musik, pemikiran dalamku, semuanya melupakan replika kromosomnya.
You too have the same half other chromosome in your body. So love your every chromosome…
bercerita tentang:
papa
Langganan:
Postingan (Atom)